Orang - orang Proyek
Orang - orang Proyek

Ahad pagi yang cerah. Badan segar setelah menyelesaikan dua set badminton dengan teman club. Mandi agak lama dilanjutkan makan pagi ikan bakar nila segar yang di penyet dengan sambal trasi yang dihidangkan hangat. Luar biasa nikmatnya. Pagi ini benar-benar rileks. Sengaja tidak kuagendakan apapun hari ini kecuali nyantai dirumah. Sambil leyeh di sofa depan, teringat setumpuk buku sekitar 7 atau 8 buah yang baru kubeli beberapa hari pada pameran buku yang diselenggarakan salahsatupenerbitternama dan belum satupun sempat kujamah. Maka kuraih bungkusan plastik itu dan aku tertarik mengambil buku dengan judul “Orang-Orang Proyek”. Novel setebal  220 halaman karangan penulis kawakan Ahmad Tohari ini sebenarnya terbitan 2007 dan mengisahkan peristiwa 90-an. Dan larutlah aku dalam cerita buku yang seolah-olah aku ada didalamnya.

Adalah Insinyur Kabul seorang sarjana teknik sipil yang menjadi aktivis kampus saat masih kuliah. Dia dihadapkan pada sebuah kenyataan, sebuah kejanggalan, sebuah disparitas antara idealisme keilmuan sipil yang dia junjung tinggi kebenarannya dengan realita lapangan tanpa ampun. Disebuah proyek jembatan Sungai Cibawor dimana dia sebagai kepala pelaksananya.“Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan menifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?”

Dan puncaknya adalah ketika InsinyurKabul memutuskan untuk mengundurkan diri dari proyek jembatan ini. Setelah bagian struktur jembatan selesai dibangun, “Saya bertanggungjawab atas kualitas struktur jembatan ini”. Namun dia tidak bisa terima, ketika dipaksakan jembatan harus selesai sebelum waktunya. Ditambah besi rancang yang akan digunakan adalah besi rancang bekas serta pasir sungai yang jauh dari standart kualitas. Akhirnya setelah perdebatan panjang dengan atasanya, sang manajer proyek, Insinyur Dalkijo yang bersikukuh memaksakan penyelesaian jembatan. “Terimakasih atas nasihat Pak Dalkijo. Untuk mereka yang suka gampangan dan ingin serba mudah, nasihat bapak tentu pas. Dan maaf pak, saya bukan dari kalangan seperti itu. Jadi saya memilih mengundurkan diri terhitung sejak hari ini,” tegas kabul mengakhiri perdebatannya.

Tidak lebih setahun setelah jembatan itu diresmikan, Insinyur Kabul yang bekerja diluar kota sebagai site manager proyek pembangunan hotel di Cirebon hendak melintasi jembatan Sungai Cibawor yang dulu sempat digarapnya walaupun tidak sampai selesai. Di mulut simpang tiga, insinyur kabul harus menghentikan mobilnya. Ada papan melintang dengan tulisan “JEMBATAN RUSAK”. Lalu ada tanda panah yang menunjukkan jalan alternatif.Jembatan Cibawor tampak mangkrak dan kesepian. Kegagahan yang dulu sempat tampak kini hilang. Bagian struktur jembatan, yang dia bangun sebelum mengundurkan diri, tampaknya tak ada masalah. Kerusakan terdapat pada bagian lantai jembatan, lantai jebol pada dua titik dan aspal sudah retak hampir sepanjang lantai jembatan. Rasa kecewa, malu, marah dan Insinyur Kabul merasa kepalanya pening.

Insinyur Kabul malah melihat ribuan proyek bangunan sipil yang digarap dengan ke-sentoloyo-an. Orang-orang proyek sudah dikenal masyarakat sebagai tukang suap, tukang kongkalikong, apapun dilakukan asal dapat untung. Dan korban kegilaan mereka itu adalah masyarakat umum, karena mutu bangunan yang mereka kerjakan tak mencapai mutu baku.

Dan ingatlah dia akan cerita humor yang sangat populer tentang orang-orang  proyek.Suatu saat di akhirat,penghuni neraka dan penghuni surga ingin saling kunjung. Maka penghuni kedua tempat itu sepakat membuat jembatan yang akan menghubungkan  wilayah neraka dan wilayah surga. Bagian jembatan di wilayah neraka akan dibangun oleh orang-orang penghuni neraka dan sebaliknya jembatan pada sisi wilayah surga akan dibangun orang-orang surga. Ternyata penghuni neraka jauh lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya dibandingkan penghuni surga. Dan ketika dicari sebabnya, ditemukan kenyataan diantara para penghuni neraka banyak mantan orang proyek.

Wati, istri Insinyur Kabul yang mendengarkan cerita suaminya ini lantas bertanya, “Dari mana Mas mendapatkan cerita itu ?”

“Mau tahu? Dari orang proyek yang dulu jadi bos kita”.

“Eddddaaaannn, Jadi orang-orang proyek sesungguhnya sadar akan kegilaan mereka? Kegilaan besar-besaran ini akan berlangsung sampai kapan, Mas ?.”

Kabul tidak segera menjawab.Wajahnya beku dan pandangannya pun seakan buntu.

“Rayap baru berhenti makan bila kayu yang digerogotinya sudah habis. Atau apabila mereka disiram dengan racun antiserangga,” pungkasnya dengan pandangan kosong.

Dan hati Kabul tiba-tiba sangat digelisahkan oleh pertanyaan : ada berapa ribu proyek yang senasib dengan jembatan Cibawor? Dan dengan mental “Orang-Orang Proyek” yang merajalela dimana-mana, bisakah orang berharap akan terbangun tatanan hidup yang punya masa depan ?.....

*) menukildari : Ahmad Tohari (2007), Orang-Orang Proyek, Gramedia, Jakarta.

Oleh : Kasno. T. Kasim, SE, MM

Artikel Lain

shadow