" Gumuruh "

Entahlah aku harus berceritera apa tentang engkau, yang kutahu hanyalah kesepianmu duduk menyendiri di pategalan dalam naungan pohon keluwih sebagai pengganti pohon Dhadhap yang termakan jaman. Engkau di datangi banyak orang dan tak tahu juga akan kepastian maksud kedatangan nya. Seandainya aku mampu merobek tirai membuka cadar misteri dan kudapatkan sesuatu yang kau miliki pastilah akan kubagi bersama dengan mereka dan engkau juga.

Aku menyebutmu Gupala, batu berukir dan terpahat oleh tangan yang hebat, ketlatenan, ketelitian serta kesabaranmu sungguh tak di ragukan. Daya seni keahlianmu mumpuni dan penghayatan serta emosimu telah lebur luluh menyatu wujud dalam karyamu.

Jlagra  ( sebutan ahli pekerjaan seni batu dalam Bahasa Jawa ), kenapa tak kau tinggalkan secuil prasasti tentang karyamu? Apakah memang demikian kehendak yang menyuruhmu ataukah ada hal lain yang kau sembunyikan? Sedangkan yang kudapat hari ini hanyalah bayang dan anganku mencoba berkhayal menerobos batas jamanku dan jaman mu.

Kudapatkan apa yang kucari bahwa engkau disebut  “ Nyai Tothok Kerot “  dari  “ Dusun Nyaen “, itulah yang tercatat dalam lembaran hidup banyak orang di sekitarmu.

Satu diantara mereka yang berceritera adalah  “ Ki Buto Locaya “  Pepatih Kadhiri pada masa Prabu Jaya Baya yang juga memiliki nama  “ Kiai Dhaha “  kakak dari  “ Kiai Daka “. Dia bertutur bahwa pada masa pemerintahan Jaya Baya datanglah seorang  “ Raseksi “   ( Buto Wadon = Rasaksa Wanita ), masuk laladan Kadhiri. Kedatangan nya membuat gempar Rakyat Kadhiri dan tanpa basa basi di usirlah  ( di “ Gusah “ – jawa ) dengan cara di keroyok.

Dalam peristiwa itu  “ Raseksi “  kalah dan tak berdaya. Kemudian datanglah Sang Prabu Jaya Baya setelah mendapat laporan Punggawa Kerajaan. Kehadiran beliau tidak murka dan bertanyalah Sang Prabu kepada Raseksi yang dalam keadaan lunglai itu dari mana asal serta apa maksud kedatangan nya di Kadhiri ini.

Raseksi menjawab dan tidak menyebut namanya, akan tetapi ia mengatakan berasal dari “ Tlatah Lo Dhoyong “ yang berada di pesisir Laut Selatan. Adapun kehadiran nya bermaksud  “ Mawong “  ( Ngunggah – unggahi  : jawa ). Kepada Sang Prabu Jaya Baya. Mendengar jawaban itu Sang Prabu menolak nya dan malah memberitahukan bahawa 20 Tahun setelah peristiwa ini Raseksi akan menemukan jodoh nya di Laladan Prambanan yang Rajanya berjuluk Prabu Prowotosari.

Menengarai peristiwa ini  bertitahlah Prabu Joyo Boyo kepada pepatih kerajaan yaitu  “ Ki Buto Locaya “ untuk melakukan hal – hal sebagai berikut :

  1. Tokoh Raseksi ini agar di sungging dalam bentuk Gupala  ( Arca ) sebagai lambang sejarah.
  2. Laladan dimana Gupala Raseksi ini berada agar di namakan Dusun Nyaen ( Nyai – jawa ).
  3. Lokasi dimana Rakyat Kadhiri mengusir  ( Nggusah – jawa ) terjadi Gemuruh ( Gemerah – jawa ) maka tengarailah dusun yang berada di selatan Menang di namai Dusun Gumuruh   ( Gora – jawa kawi ). Arca itulah yang kemudian di sebut – sebut atau di beri nama “ Nyai Tothok Kerot “.

Dalam naskah / sastra lama “ Serat Dharmo Gandhul “ di tempat ini  pernah Sunan Benang ( Sunan Bonang ) berbantah dengan “ Ki Buto Locaya “ dan dalam perbantahan ilmu Sunan Benang dikalahkan.

 

Sunan Benang Ngandika :

..... Dhadhap iki kembange tak jenengake  “ Celung “ uwohe  “ Keledhung “

Sebab aku kecelung nalar lan keledhung rembug, dadia paseksen yen aku kalah padu lan Ratu Dhemit, kalah kaweruh kalah nalar......

( Serat Dharmo Gandhul ).

 

Muncul lah pernak – pernik pertanyaan bergayut dengan segaris  “ Kelir Sastra “ keberadaan Nyai Tothok Kerot. Disini bukanlah sekali – kali menelusuri kebenaran sejarah  ( Historia), tetapi hanyalah mengintip sajian sastra dan budaya yang berkembang dalam tutur masyarakat.

Namun jika terjadi dalam penulisan ini seolah kritik ataupun tidak ada dalam kebenaran nya sebut saja suatu kewajaran. Ambil saja suratan sajian ini yang terdapat kemiripan lokasi, nama atau sebutan lain.

Seperti hal nya yang tertulis dalam  “ Serat Dharmo Gandul “  di jelaskan tentang arti nama Buto Locaya :

 

  • Buto : lambang nama seorang yang bodoh dan dalam sastra jawa searti dengan Buteng, karakter yang mudah marah.
  • Lo : nama pohon perdu yang dalam sastra jawa sebagai lambang  “ manusia “ atau  “ Wit Lo “ searti Pohon Lo.
  • Caya : oleh Dharmo Gandhul di artikan di percaya sedangkan dalam sastra jawa Caya = guwaya, yang identik dengan perangai.

Dari sedikit hal di atas akan kita coba sejajarkan dengan Raseksi tanpa nama yang berasal dari Lodhoyong Laladan Samudra Selatan  ( Laut Kidul ) itu. Tokoh raseksi ini merangkum  4 ( Empat ) identitas sekaligus yang mewakili identitas semu siapa dia dan kenapa demikian.

  1. Raseksi tokoh Buto yang berkarakter mudah marah.
  2. Perempuan, bahwa tokoh Raseksi itu adalah sebagai lambang atau simbol Raja yang telah di kalahkan dan sangat di rendahkan martabat nya.
  3. Lodhoyong, pohon yang keadaan nya miring atau tidak tegak lagi, lambang penokohan yang sudah tidak setia atau  “ Nggak Jejeg Lagi “.
  4. Samudra Selatan atau Laut Kidul adalah lambang pemberhentian sebuah perjalanan. Bandingkan  “ Cakra Kerajaan Ngayogjakarto “ masuk nya di awali dari Alun – alun Lor dan perjalanan nya tembus sampai dengan Alun – alun kidul setelah melalui atau lewat Paseban.

Seleret membayang pudar kabut itu ketika fakta sejarah berbicara ketika Bulan Nopember berakhir pada catatan Tahun 1042. Raja Airlangga harus bertindak atas perebutan tahta 2  ( dua ) orang putra nya yaitu Sri Semara Wijaya dan Mapanji Garasakan (Ceritera Rakyat dalam Episode Mpu Bharada membelah wilayah Kerajaan menjadi 2 bagian dengan air kendhi).

Dalam pembagian wilayah ini di sebelah Barat diserahkan kepada Sri Smara Wijaya beribu kota Daha bertempat di Pangjalu yang nanti nya akan menurunkan Raja Jaya Baya, sedangkan di sebelah Timur Mapanji Garasakan beribukota Jenggala bertempat di ibukota lama yakni Kahuripan yang menurunkan Raja – raja Jenggala.

Pada Tahun 1135  (factor x) Kerajaan Jenggala di kalahkan oleh Prabu Jayabaya yang pada akhir nya Kadhiri  ( *baca Pangjalu atau Panjalu ) menjadi satu kembali sebagaimana di sebut dalam Prasasti Hantang berbunyi  “ Panjalu Jayati “.

Jikalau kita memperhatikan serta mencermati sikap dalam titah Prabu Jayabaya tentang Gupala Raseksi yang tetap di perbolehkan menempati laladan Kadhiri dan pemberian nama suatu wilayah  “ Nyaen “ di selatan desa Menang, mungkinkah Buto Nyai ini masih Saudara Sepupu Prabu Jayabaya yang telah di rendahkan martabat nya.

Demikian pula tentang lokasi dimana tragedi terjadi yang dalam sastra jawa di istilahkan “Nggurah atau Nggusah“  dengan suara sangat  “ Gumuruh “ yang suasana seperti itu di katakan  “ Gora “ dalam sastra jawa juga sebagai tanda pengingat rentetan peristiwa itu. Benarkah dari istilah Nggurah, Nggusah  ( karena bukan peperangan )  Gumuruh juga Gora bergeser menjadi Gurah ? Tak tahulah dan yang kutahu sekarang Arca itu di sebut  “ Tothok Kerot “ yang dahulu nya di bawah atau di naungi pohon  “ Dhadap “ telah berubah di naungi hukum negara yang tetap sebagai pengingat juga  “ Dusun Dhadhapan “  Gurah masih tetap ada sampai sekarang.

 

Penulis : Ki Juru Martani

Artikel Lain

shadow