Dialog Perang
Dialog Perang

Disebuah negeri pada jaman dimana manusia telah mulai menemukan  kebudayaannya, ditengah-tengah berakhirnya sebuah perang dahsyat terjadilah sebuah dialog singkat antara seorang pejuang dan seorang rekan :


-    Kau tetap hendak berperang, sementara dirimu dan keluargamu sedang terberai ?


*    Aku berjuang bukan untuk keluargaku apalagi untuk diriku sendiri


-    Bukankah sudah kamu lihat bahwa perang hanya membawa korban harta dan nyawa serta perebutan kekuasaan ?


*    Aku ikut berperang karena aku pejuang. Aku berjuang bukan untuk sebuah nyawa atau harta tidak juga tahta.


-    Aku melihat kau begitu gigih melawan mereka sehingga banyak yang tewas karena tusukan pedangmu. Namun terkadang  kau tak gunakan pedangmu ketika lawan sudah di tangan ?


*    Aku tidak pernah membunuh mereka. Kalau pedangku menembus dada mereka, itu karena kebenaran mendorong pedang ditangan. Dan aku tak gunakan pedang karena nafsu telah menguasai diriku.

-    Di tengah amukan perang yang dahsyat kau terjatuh bersama kudamu yang terkena tombak hingga pedang yang kau genggam terlepas dari tanganmu. Kenapa kau tak segera meraih pedangmu dan mengambil kuda lain hingga kau dapat berperang lagi ?


*    Saat aku jatuh dan pedangku terlepas, aku melihat salah seorang dari pihak musuh sedang mengerang karena tak tahan akan tombak yang menembus dadanya. Aku berusaha mencabut tombak itu


-    Ya ... tapi kenapa kau biarkan tanganmu terlepas dari pedangmu dan badanmu kau biarkan  terpisah dari kudamu ?

*    Hidupku adalah perang. Sehingga mudah bagiku untuk meraih kembali pedang yang terlepas dari tanganku dan mengambil kuda lain ketika kudaku terluka. Tapi dalam setiap perang tak banyak waktu untuk membantu mencabut tombak yang menancap ditubuh kawan apalagi lawan. Bukankah tidak hanya kuda dan pedang yang dibutuhkan dalam perang.

-    Hampir seluruh hidupmu kau habiskan dimedan perang. Dan disetiap akhir perang kau selalu segera pergi meninggalkan negeri ini hingga tak sempat ikut menikmati pesta kemenangan perang ?

*    Bagiku perang tak pernah berakhir. Dan karirku sebagai pejuang ada di medan perang. Kalau diakhir perang aku tak segera meninggalkan  negeri ini, aku khawatir karirku sebagai pejuang akan berakhir pula. Dan perang, baik sebelum maupun sesudahnya adalah untuk diperjuangkan, bukan untuk ditangisi kekalahannya atau disambut dengan pesta pora setiap kemenangannya.

 

Di akhir dialognya itu sang pejuang segera bergegas meninggalkan negerinya yang sedang hiruk pikuk dengan sebuah pesta pora menyambut kemenangan perang. Dari langka ke langkah sang pejuang sudah mulai melupakan negerinya beserta segala peristiwanya, namun ada sebuah pertanyaan yang selalu menghantui setiap langkahnya. Sebuah pertanyaan yang dirasa begitu berat melebihi beratnya mengayun pedang di medan perang. Pertanyaan yang selalu terngiang di telinga dan terucap dalam bibirnya :

Sebenarnya apa yang sedang diperjuangkan dan untuk apa diperjuangkan...?

 

Penulis: Ketua Asosiasi UPK Kabupaten Lumajang

Artikel Lain

shadow